Monday, March 29, 2010

Saya dan Utusan Tuhan (II)

Dan ketika suatu hari lagi, saya (T) berjumpa lagi dengan Kekasih Tuhan (KT). Kali ini dia sengaja mendatangi saya dan berbicara pada saya

KT : Sekarang, apa yang kamu pikirkan?
T : Tidak ada, saya tidak akan memberitahu kamu
KT : Mengapa? 
T : Saya takut menangis
KT : Jadi ini Ayah kamu?
T : Bagaimana kamu tahu?
KT : Saya adalah Kekasih Tuhan, saya disini untuk mendengarkan kamu. Ada apa dengan Ayah kamu?
T : Saya hanya ingin melihat Ayah saya lagi untuk satu menit saja
KT : Mengapa tidak selamanya?
T : Karena itu tidak mungkin
KT : Lalu apa yang membuat kamu yakin untuk bisa melihat Ayah kamu walaupun untuk satu menit? satu menit dan selamanya akan menjadi sama jika itu terwujud. Nyatanya, itu tidak mungkin. Kalian berbeda dunia
T : Saya tahu itu
KT : Tapi Ayah kamu hanya pindah, nanti kamu akan menyusul
T : Saya juga paham tentang itu
KT : Jika Tuhan memberi kamu kesempatan, apa yang akan kamu lakukan untuk Ayahmu?
T : Saya tidak tahu, say atidak bisa membayangkannya
KT : Apa yang kamu ingat dari Ayah kamu? 
T : Saya tidak begitu ingat lagi rasanya saat masih memiliki Ayah. Tapi masih terngiang disaat saya makan malam setiap harinya bersama Ayah, saat saya masih bisa memeluk Ayah saya setiap berangkat sekolah, disaat Ayah saya selalu mengkhawatirkan saya jika akan pergi bersama teman-teman, dan masih banyak lagi. Saya ingin itu semua kembali karena saya ingin merasakan lagi rasanya hidup bersama keluarga yang utuh
KT : Jika Tuhan beri kesempatan kamu untuk bisa merawat Ayah kamu lagi sebelum dia dipanggil Tuhan, apa yang kamu lakukan?
T : Saya tidak akan pernah meninggalkan kamar Ayah saya saat itu, saya akan tidur disamping Ayah selalu, Saya akan 100% siap siaga disana
KT : Lalu apa lagi?
T : Saya akan berbicara dengan Ayah sepuasnya, karena dia tidak pernah mengeluarkan satu katapun untuk kami
KT :Lalu bagaimana dengan Ibu kamu?
T : Ibu saya adalah orang yang paling terpukul karena ini semua. Semua orang bilang, semuanya akan terasa berat jika belum 40 hari, kemudian 100 hari, lalu 3 bulan, dan sekarang sudha 10 bulan, Tetapi buat Ibu saya, setiap hari yang dia jalani tanpa Ayah saya adalah sesuatu yang sangat berat. Tidak peduli sudah berapa lama pun
KT : Baiklah, teruslah mendoakan Ayah kamu, kamu hanya kangen dengan Ayah kamu. Saya yakin itu semua akan terlewati, Tuhan tidak pernah tidur dan Dia akan selalu ada bersama kamu
T : Terima kasih

Kekasih Tuhan itu tersenyum dan menghilang lagi. Kali ini saya sadar dan tidak bermimpi

No comments:

Post a Comment

Formspring